Mylidernews.com – Jakarta : Presiden Presiden Prabowo Subianto menerima surat pengunduran diri Perry pada Minggu (26/7). Presiden kemudian menunjuk Deputi Gubernur BI Senior Destry Damayanti sebagai Gubernur BI Sementara. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi kepada wartawan mengatakan di Gedung BI Jakarta
Mensesneg Prasetyo Hadi membantah kabar yang menyebut Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) karena sakit. Prasetyo menegaskan, Perry mengundurkan diri atas alasan pribadi. “Beliau menyampaikan pengunduran diri berkirim surat. Karena alasan pribadi dan tentu kita menghormati ya,” ujar Prasetyo.
Prasetyo juga menepis spekulasi yang menyebut Perry mundur karena mendapat tekanan dari Istana. “Siapa yang menge-spekulasi? Itu kan pertanyaan Anda yang menge-spekulasi,” tegasnya. Prasetyo mengatakan, hingga kini, Perry belum bertemu langsung dengan Presiden Prabowo. “Kalau pertanyaan pesan khusus, sementara belum ada ya karena prosesnya baru sudah dikirim surat dan belum sempat ada pertemuan,” kata Prasetyo.
Sementara Ekonom Senior Indef yang juga Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini meminta, pengunduran diri Perry Warjiyo harus jadi momentum bagi bank sentral untuk memperkuat perannya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Ia menekankan, menjaga nilai tukar rupiah itu merupakan mandat utama BI sebagaimana diatur dalam Undang-Undang BI. Seluruh anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) dipanggil ke Istana Merdeka, Jakarta Pusat untuk membahas pengunduran diri Gubernur BI, Perry Warjiyo.
“Koordinasi adalah keharusan dan mutlak menjadi tanggung jawab BI untuk menjaga nilai tukar. Gubernur BI yang baru tidak boleh pasif dalam koordinasi ini (hanya melaksanakan tugas moneter saja), tetapi perlu memainkan peran untuk memimpin koordinasi di depan dengan kementerian lain untuk memastikan nilai tukar tidak terpuruk seperti sekarang,” ujarnya.
Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menilai, keputusan tersebut menjadi kejutan karena sebelumnya tidak ada sinyal kuat di ruang publik terkait rencana pengunduran diri Perry.
“Sejauh ini, belum terlihat sinyal kuat di ruang publik bahwa Perry Warjiyo akan mengundurkan diri. Karena itu, keputusan ini dapat dibaca sebagai kejutan kelembagaan yang perlu dijelaskan secara transparan agar tidak memicu spekulasi mengenai tekanan politik atau perbedaan arah kebijakan moneter,” kata Rizal, Senin (27/7).
Direktur Eksekutif CELIOS Bhima Yudhistira mengatakan pengunduran diri Perry jauh sebelum masa jabatannya berakhir pada Mei 2028 memunculkan kekhawatiran baru terhadap stabilitas sektor moneter dan kepercayaan investor. “Mundurnya Gubernur BI Perry Warjiyo sangat disesalkan karena menjadi pukulan telak bagi sektor moneter,” kata Bhima, Senin (27/7). Menurut Bhima, terdapat dugaan tekanan yang memengaruhi posisi bank sentral, terutama setelah nilai tukar rupiah mulai mengalami pelemahan sejak akhir 2025.
Plt Gub BI, Destry Damayanti memastikan proses transisi kepemimpinan tidak akan mengganggu pelaksanaan tugas dan mandat bank sentral. “Kami sudah mempunyai suatu mekanisme decision making process yang sangat berjenjang,” kata Destry. Ia menambahkan BI akan tetap menjalankan mandat dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, memelihara stabilitas sistem pembayaran, serta turut menjaga stabilitas sistem keuangan melalui koordinasi dengan pemerintah.
Sementara sejumlah media asing menyoroti mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia. Laman Financial Times misalnya menulis “Indonesia central bank chief resigns” sementara Reuters memuat reaksi analis terkait keputusan ini dalam artikel “Analysts reaction to Bank Indonesia Governor Perry Warjiyo stepping down”. “Pemerintah Indonesia mengatakan gubernur bank sentral yang telah lama menjabat telah mengundurkan diri, menambah ketidakpastian atas pembuatan kebijakan ekonomi di negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara ini,” tulis Financial Times diterjemahkan, Senin (27/7). Sementara itu, laman Reuters menulis bagaimana sejumlah ekonom asing memberi komentar soal kemunduran Perry dari posisinya saat ini. Ini disebut sebagai “pengunduran diri yang mengejutkan yang kemungkinan akan membuat investor gelisah di tengah kekhawatiran yang masih ada seputar independensi bank sentral”.





