MyLiderNews.com – Perdana Menteri (PM) Italia Giorgia Meloni mengambil langkah berani ketika menangguhkan sementara sistem pergerakan bebas Schengen untuk jalur laut dan udara dengan Spanyol, serta memberlakukan kembali pemeriksaan perbatasan.
Langkah ini disebut berani kaena Schengen merupakan kesepakatan 29 negara di Eropa yang membebaskan keluar masuk antarnegara anggota tanpa pemeriksaan paspor di pintu keluar masuk.
Namun demi menjaga keselematan warga dari ancaman terorisme, negara mengambil langkah pengetatan keamanan nasional yang diumumkan pada Jumat (31/7) malam waktu setempat.
“Ini merupakan sebuah langkah luar biasa yang diambil untuk melindungi keamanan nasional dan mencegah dampak yang mungkin timbul bagi negara kita,” ujar Meloni dalam sebuah unggahan di media sosial X.
“Langkah tersebut akan tetap berlaku hanya selama diperlukan, dengan perhatian khusus diberikan untuk membatasi dampak apa pun terhadap arus pariwisata musim panas,”
Keputusan tersebut diambil setelah pemerintah Italia menilai situasi keamanan perbatasan, menyusul lonjakan kedatangan migran dari Maroko baru-baru ini di Ceuta, sebuah wilayah kantong Spanyol di kawasan Afrika Utara.
Dilansir kantor berita Italia, ANSA, disebutkan bahwa Italia akan memberlakukan kontrol perbatasan pada jalur laut dan udara dengan Spanyol selama satu bulan penuh mulai 1 Agustus. Pemeriksaan tersebut akan dilaksanakan di pelabuhan-pelabuhan dan bandara-bandara Italia.
Polisi perbatasan akan melakukan pemeriksaan “tertarget” dan “selektif,” dengan fokus utama pada warga negara ketiga yang tiba di Italia dari Spanyol/
Langkah ini untuk memverifikasi apakah mereka memiliki dokumen-dokumen valid untuk memungkinkan mereka bepergian di dalam kawasan Schengen.
“Penangguhan sementara terhadap sistem Schengen dengan Spanyol merupakan pilihan yang perlu diambil untuk melindungi keamanan warga negara kita dan mempertahankan perbatasan Eropa.”
Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani dalam sebuah unggahan di media sosial X mengatakan, langkah itu telah diatur dalam traktat dan tidak dapat dihindari karena situasi saat ini.
“Krisis migran di Ceuta mengingatkan kita bahwa pengelolaan perbatasan Uni Eropa (UE) merupakan tanggung jawab bersama di antara negara-negara anggota kita,” ungkapnya.
“Kita harus bekerja sama untuk mencegah masuknya arus migran yang tidak terkendali ke wilayah UE, beserta segala risiko yang ditimbulkan dan ancaman terorisme, yang harus ditangani tanpa keraguan,” kata Tajani.





