Perangi Stunting, Presiden Prabowo Tegaskan dalam Pidato Kenegaraan Akan Pertahankan Program MBG

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPD RI dan DPR RI Tahun 2026 di Gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).

MyLiderNews.com, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPD RI dan DPR RI Tahun 2026 di Gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).

Salah satu hal yang menjadi sorotan tajam Prabowo dalam pidatonya adalah masalah stunting yang menurutnya akan menjadi hambatan dalam melahirkan generasi emas.

Presiden Prabowo memang kerapkali menyebut generasi emas sebagai masa depan bangsa Indonesia.

Generasi emas adalah sebutan bagi kelompok anak dan muda yang cerdas, sehat, berkarakter kuat, serta siap memimpin dan memajukan bangsa saat Indonesia berusia 100 tahun pada tahun 2045.

Generasi ini memiliki kemampuan berpikir kreatif dan menguasai ilmu pengetahuan. Namun generasi ini tidak lepas dari pertumbuhan fisik yang sehat karena ditopang dengan asupan gizi yang baik.

Hanya saja, fakta bahwa stunting masih menghantui kelahiran generasi emas tersebut.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)—dari janin dalam kandungan hingga anak berusia 2 tahun.

Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi kronis pada ibu hamil maupun pada anak yang berdampak pada perkembangan otak terhambat dan menunurnnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar.

Daya tahan tubuh yang lemah menyebabkan anak lebih mudah sakit dan terkena penyakit metabolik seperti diabetes atau obesitas saat dewasa.

Menurut standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), batas ambang prevalensi stunting yang dianggap normal atau terkendali dalam suatu wilayah adalah di bawah 20 persen dari total balita.

Jika angka prevalensi berada di atas 20 persen, maka hal itu dikategorikan sebagai masalah kesehatan masyarakat yang serius.

Berdasarkan data resmi dari Kementerian Kesehatan RI, prevalensi stunting nasional tercatat berada di angka 19,8 persen.

Baca Juga  Teknologi Kesehatan yang Bisa Menyelamatkan Nyawa di Daerah Terpencil Indonesia — Saatnya Pemerintah Bergerak Cepat

Angka nasional ini sudah masuk kategori aman di bawah batas WHO (di bawah 20 persen). Namun, angka rata-rata nasional tidak sama dengan angka prevalesi di daerah.

Di Indonesia, prevalensi stunting masih sanagt parah. Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah provinsi dengan angka prevalensi stunting tertinggi, mencapai sekitar 37 persen.

Posisi kedua adalah Sulawesi Barat sebesar 35,4 persenu dan Papua Barat Daya di posisi ketiga, sebesar 30,5 persen.

Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya mengakui prevalensi gizi buruk di beberapa tempat masih mencapai 25 persen atau sekitar satu dari empat anak Indonesia.

“Saat ini prevalensi gizi buruk di beberapa tempat masih mencapai 25 persen atau sekitar satu dari empat anak Indonesia,” kata Prabowo dalam sidang tahunan menyambut HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang bertajuk “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”.

Presiden menilai kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan karena gizi buruk dapat menghambat perkembangan sel otak, otot, dan tulang anak.

Oleh karena itu, ia menegaskan pemerintah akan terus menjalankan program MBG dengan melakukan perbaikan sekaligus meningkatkan efisiensinya.

Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan pembangunan manusia menjadi bagian paling menentukan bagi masa depan Indonesia dan harus dimulai dari pemenuhan kebutuhan dasar, terutama gizi.

Program MBG, lanjut dia, bertujuan untuk mengatasi persoalan gizi buruk yang masih dialami anak-anak di sejumlah daerah.

Lebih lanjut presiden menilai pihak-pihak yang melakukan korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak pantas dihormati dan tidak memiliki nilai kemanusiaan.

“Saya menilai mereka yang mau korupsi dari makan untuk anak-anak ini, ini adalah orang-orang biadab.”

“Ini adalah orang-orang yang tidak pantas kita hormati. Menurut saya ini sudah sama sekali tidak ada nilai kemanusiaan,” kata Presiden.

Baca Juga  Mengapa Kondisi Udara DKI Jakarta Selalu Buruk, Studi ITB Ungkap Penyebabnya
Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *