Mylidernews.com – Jakarta: Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026) pagi. Gempa dangkal tersebut berpusat sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 15 kilometer.
Guncangan kuat dirasakan di sejumlah wilayah Flores dan menimbulkan kerusakan pada rumah warga, fasilitas publik serta sejumlah infrastruktur. Data BNPB yang dilaporkan pada perkembangan terakhir mencatat 53 orang meninggal dunia dan 135 orang mengalami luka-luka.
Gempa juga memicu peringatan dini tsunami. BMKG mencatat gelombang tsunami terobservasi di sejumlah wilayah pesisir, antara lain Maurole, Ende, dengan ketinggian mencapai 0,94 meter. Peringatan dini kemudian diakhiri setelah pemantauan menunjukkan kondisi muka laut kembali aman.
Yang membuat situasi belum sepenuhnya aman adalah aktivitas gempa susulan. BMKG terus memantau perkembangan aktivitas seismik dan meminta masyarakat tetap waspada, terutama menjauhi bangunan yang mengalami kerusakan.
Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajaran pemerintah bergerak cepat menangani dampak bencana dan memastikan bantuan segera dikirim kepada masyarakat terdampak.
BNPB, Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah dan berbagai instansi terkait terus melakukan penanganan darurat, pendataan kerusakan serta pencarian dan pertolongan.
BMKG menegaskan masyarakat harus mengandalkan informasi resmi dan tidak terpancing hoaks mengenai gempa maupun tsunami.
WHY?
Mengapa gempa Flores kali ini menimbulkan dampak begitu besar?
Salah satu jawabannya adalah karena gempa terjadi sangat dangkal, di kawasan yang memiliki sejarah aktivitas tektonik dan gempa merusak. BMKG mengidentifikasi sumber gempa berkaitan dengan sistem Flores Back Arc Thrust.
Bencana ini kembali mengingatkan: bagi Indonesia, mitigasi gempa bukan sekadar respons setelah bencana terjadi, tetapi persoalan kesiapan bangunan, tata ruang, sistem peringatan dini dan literasi masyarakat sebelum gempa datang.





