MyLiderNews.com, Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menyetujui sebuah perjanjian dengan Arab Saudi untuk mengembangkan infrastruktur nuklir kerajaan di kawasan Teluk tersebut.
Sebagaimana diberitakan The Wall Street Journal pada Selasa (21/7), AS dan Arab Saudi mengumumkan perjanjian kerja sama nuklir sipil berdurasi 30 tahun.
Perjanjian bersejarah ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat pengaruh AS di kawasan Teluk dan melawan hegemoni Iran. Namun, langkah ini akan memicu kontrovrsi.
Mengutip sejumlah pejabat AS, The Wall Street Journal melaporkan bahwa kesepakatan tersebut diperkirakan bernilai puluhan miliar dolar AS dan akan berlaku selama 30 tahun.
Perjanjian tersebut dirancang untuk memberikan peran utama kepada perusahaan-perusahaan Amerika Serikat dalam pengembangan infrastruktur nuklir Arab Saudi sekaligus menyingkirkan pesaing asing lainnya.
Salah satu komponen utama dalam kesepakatan itu adalah pembangunan fasilitas pengayaan uranium di Arab Saudi oleh perusahaan-perusahaan AS, apabila hasil kajian bersama Washington dan Riyadh menyimpulkan langkah tersebut layak dilakukan.
Laporan itu menyebutkan, Amerika Serikat diberi peran dalam mengawasi ambisi nuklir Arab Saudi. Pejabat pemerintahan Trump menilai mekanisme tersebut dapat membantu mencegah program nuklir itu digunakan untuk pengembangan senjata.
Namun, kesepakatan akan diajukan ke Kongres untuk ditinjau dalam beberapa hari mendatang dan kemungkinan menghadapi penolakan dari sejumlah anggota parlemen yang khawatir terhadap perluasan kemampuan nuklir di kawasan Timur Tengah yang telah lama dilanda ketidakstabilan.
Arab Saudi sendiri telah lama menegaskan haknya untuk mengembangkan program nuklir sipil. Dalam beberapa tahun terakhir, Washington telah berusaha mengaitkan kesepakatan nuklir dengan agenda strategis yang lebih luas, termasuk normalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel, serta penandatanganan pakta pertahanan AS.





