MyLiderNews.com, Presiden Prabowo Subianto dengan garang menyampaikan pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPD RI dan DPR RI Tahun 2026 di Gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8).
Pada pidato tahunan menyambut HUT Ke-81 Kemerdekaan RI bertajuk “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”, ia dengan lantang akan melanjutkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk memerangi stunting, terutama di daerah yang menyandang 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar) yang kini ditambah lagi 2T (tersiksa dan terlupakan).
Pertanyaan penting yang perlu dilontarkan, seberapa efektif program tersebut hingga menjangkau masyarakat lapisan paling miskin di wilayah 5T itu?
Fakata menunjukan, di daerah dengan tingkat stunting tertinggi seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mencatatkan prevalensi stunting tertinggi, mencapai sekitar 37 persen, dapur MBG-nya hanya 96 dapur.
Menariknya lagi, menurut data yang didapat dari laman resmei pemerintahan provinsi NTT (nttprov.go.id), Kabupaten Belu hanya memiliki 1 dapur MBG.
Berdasarkan data Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) periode April 2026, tingkat prevalensi stunting di Kabupaten Belu, NTT mencapai 30,9 persen.
Di pihak lain, Bali merupakan daerah dengan tingkat prevalensi stunting paling rendah yaitu 8,7 persen. Namun penyebaran dapur MBG paling banyak yaitu 277 dapur.
Dari angka itu, dikutip dari laman indonesiabaik.id, Kota Denpasar memiliki dapur terbanyak yaitu 49 unit dapur, lalu disusul Kabupaten Buleleng memiliki 46 unit dapur.
Lantas berapa prevalensi stunting di Kota Denpasar? Berdasarkan survei makro terbaru yang dirilis oleh pihak pemerintah, tercatat sebesar 10,4 persen.
Namun pemantauan riil di lapangan melalui pencatatan Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (E-PPGBM) menunjukkan angka riil yang lebih rendah, yakni sekitar 2 persen.
Lalu di Kabupaten Buleleng menurut laporan resmi Bappeda Buleleng mencapa 2,6 persen prevalensi stunting pada akhir tahun 2024.
Dengan melihat perbandingan tersebut, di mana ada kabupaten atau kota yang sudah turun prevalensi stuntingnya, sejatinya agar lebih efektif fokus progam MBG lebih utamakan ke darah termsikin dan prevalensi stunting tingg.
Atau dengan kata lain, program MBG tidak bisa diklaim efektif dan bermanfaat menurunkan prevalensi di daerah yang masih tinggi angka gizi buruknya.





