Lima Catatan dari Api Bromo

Pertama, hutan bukan sekadar pemandangan.
Bromo selama ini dikenal karena keindahannya. Padang savana, lautan pasir, dan pegunungannya menjadi magnet wisatawan. Tetapi di balik panorama itu terdapat ekosistem yang memiliki fungsi ekologis. Ketika ratusan hektare terbakar, yang hilang bukan hanya warna hijau yang terlihat mata, tetapi juga fungsi alam yang tidak mudah dihitung.

Kedua, api selalu meninggalkan pertanyaan tentang manusia.
Kebakaran hutan tidak boleh hanya dilihat sebagai peristiwa alam. Kita perlu bertanya bagaimana api bermula, mengapa dapat meluas, seberapa cepat terdeteksi, dan apakah sistem pencegahan sudah bekerja. Menemukan penyebab bukan untuk mencari kambing hitam, melainkan agar kebakaran yang sama tidak terus berulang.

Ketiga, pariwisata tidak boleh berjalan dengan mengorbankan alam.
Bromo memberikan penghidupan bagi banyak orang. Ketika kawasan ditutup, sopir, pemandu, pedagang, pengelola penginapan dan pelaku usaha kecil ikut kehilangan pendapatan. Tetapi menjaga agar wisata tetap hidup tidak boleh berarti membiarkan ekosistemnya mati. Pariwisata yang sehat adalah pariwisata yang mampu menjaga sumber daya yang menjadi alasan orang datang.

Keempat, keberhasilan tidak boleh diukur dari cepatnya api padam.
Api memang harus segera dipadamkan. Tetapi ukuran keberhasilan pengelolaan kawasan konservasi seharusnya lebih jauh: seberapa kuat pencegahan dilakukan, seberapa cepat titik api diketahui, seberapa siap personel dan peralatan, serta bagaimana ekosistem dipulihkan setelah kebakaran. Memadamkan api adalah respons. Mencegahnya menjadi bencana adalah tata kelola.

Kelima, setelah Bromo kembali hijau, jangan kembali lupa.
Wisatawan akan datang lagi. Foto-foto Bromo akan kembali memenuhi media sosial. Aktivitas ekonomi akan pulih. Tetapi alam mempunyai ingatan yang lebih panjang daripada siklus pemberitaan. Kerusakan ekologis membutuhkan waktu untuk dipulihkan.

Karena itu, pertanyaan terpenting dari kebakaran Bromo bukan hanya berapa hektare yang terbakar, tetapi:

Baca Juga  Korupsi Tidak Akan Berakhir dengan Hukuman Mati

Mengapa kita baru bergerak ketika alam sudah terbakar?

Dan pertanyaan yang lebih jauh:

Apakah kita benar-benar sedang menjaga Bromo, atau hanya menjaga agar Bromo tetap bisa dijual sebagai destinasi wisata?

Catatan Redaksi — MyLiderNews.com
Find The Why.

Share it :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *